- Details
- Written by: Administrator
- Category: Opini Energi
- Hits: 61
Bioetanol merupakan sumber energi terbarukan yang bahan bakunya berasal dari tanaman. Keberadaan bioetanol sudah dikenal dari sejak jaman dahulu, bahkan masyarakat umum dengan teknologi yang sederhana pun sudah bisa atau mampu memproduksi bioetanol secara mandiri. Bahan baku bioetanol pun sangat beragam jenisnya, bahkan banyak dari jenis tanaman bahan baku bioetanol ini yang tumbuh subur di tanah Indonesia, artinya tidak ada halangan ataupun faktor penghambat dari sisi pemenuhan bahan baku.
Pemanfaatan bioetanol kalau kita lihat sekarang ini terkesan masih sangat terbatas, umumnya pemanfaatan masih di sekitar bidang kesehatan, minuman, industri, dan sedikit dalam bidang energi. Hal ini disinyalir karena kurang variasinya sumber bahan baku yang di berdayakan, selain itu biaya proses pembuatan bioetanol juga relatif masih tinggi sehingga dinilai kurang ekonomis.
Dari berbagai kajian serta publikasi yang bersumber dari para pemerhati energi terbarukan, sering kali kita disuguhi informasi tentang potensi energ terbarukan yang begitu besar. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi, apalagi yang menyapaikan adalah seorang yang berlatar belakang pakar. Namun yang diperlukan sekarang ini dan kedepan adalah mewujudkan potensi-potensi tersebut menjadi sesuatu yang riil yang mana manfaatnya bisa dirasakan secara langsung.
Bioetanol sebagai sumber energi di proyeksi akan menjadi trend masa depan. Hal ini perlu menjadi perhatian yang serius terutama bagi yang sekarang ini masih berpegang pada energi fosil. Kondisi akan berubah secara cepat ketika penggunaan bioetanol sudah mengarah ke bahan bakar atau energi. Memang kalau melihat situasi saat ini sepertinya perkembangan bioetanol masih menghadapi kendala terutama kesiapan dan ketersediaan di bahan baku. Namun hal ini bukan berarti pesimis terhadap masa depan bioetanol. Perlu ada perubahan cara berfikir dalam strategi pengembangan bioetanol ini, kalau sebagai motor penggeraknya adalah dari industri atau korporasi tentu cerita pengembangan bioetanol akan ini lebih panjang. Untuk itu disini perlu dilibatkan peran masayarkat yang in parallel bersama-sama dengan pihak korporasi dalam membangun bioetanol ini. Diharapakan masyarakat akan memiliki gerak yang lebih lincah terhadap perubahan karena dari sisi kapasitas dan pertimbangan berbeda dibanding korporasi.
Setidaknya ada tiga hal yang sekiranya bisa menjadi pemahaman untuk masyarakat umum supaya pengembangan bioetanol ini lebih efektif dan optimal. Pemahaman yang pertama adalah bahwa sumber bahan baku yang bisa digunakan untuk bioetanol tidak hanya sebatas tebu, aren termasuk family nya, jagung , sorgoum, dan singkong, ada sumber-sumber lain yang masih bisa di manfaatkan . Yang kedua kapasitas produksi bioetanol tidak harus yang berkapasitas sedang ataupun besar, bisa memproduksi ½ liter/hari pun sudah cukup !!!. Ketiga Pembuatan bioetanol tidak harus berorientasi ke bisnis secara langsung, lebih utama untuk pemenuhan kebutuhan sendiri, seperti kompor, generator listrik, maupun untuk bahan bakar mesin bakar.
Dari tiga hal yang disampaikan diatas secara sederhana dapat disimpulkan bahwa bioetanol akan lebih cepat dirasakan manfaatnya secara langsung, dengan mengedepankan peran masyarakat supaya bisa mandiri dalam membuat bioetanol. Pemanfaatan bioetanol sebagai energi atau bahan bakar merupakan sinyal positif akan adanya perubahan yang lebih baik dan berkeadilan.
- Details
- Written by: Administrator
- Category: Opini Energi
- Hits: 68
Sebuah kalimat ataupun rangkaian kalimat tentang kemandirian energi, ketahanan energi, swasembada energi dan lain sebagainnya, yang tentunya masih berkaitan dengan energi seakan menjadi topik yang semakin menarik untuk di bahas. Berbagai pihak seperti korporasi, pemangku kepentingan, praktisi, dan akademisi, saling memberi sumbangan pemikiran, pandangan, pengetahuan dan keilmuan dalam menyongsong perubahan jaman yang di tandai dengan beralihnya pemakaian energi dari fosil ke energi terbarukan. Tentunya hal ini bisa kita tangkap sebagai sinyal positif dalam usaha untuk mengembangkan energi terbarukan, artinya sudah ada kepedulian untuk memikirkan pilihan sumber energi di masa depan. Di sisi lain juga telah tumbuh kesadaran bahwa penggunaan energi fosil itu ada batasnya. Beragamnya pendapat , argumen, ide serta praktek-praktek dilapangan akan menjadikan pengembangan energi terbarukan akan semakin dinamis kedepannya. Kondisi yang positif ini bisa mengubah grafik perkembangan energi terbarukan terhadap waktu, yang tadinya terkesan seperti garis linear akan berubah menjadi eksponensial.
Dari serangkaian pengamatan serta percobaan yang telah dilakukan, setidaknya ada satu pemahaman penting yang bisa didapat terkait bagaimana membangun kemandirian energi berbasis energi terbarukan ini. Dari sekian banyaknya sumber-sumber energi terbarukan yang ada di bumi ini, sangat diperlukan kemampuan yang tepat dalam mengidentifikasi dan menentukan jenis energi terbarukan apa yang harus dijadikan sebagai energi utamanya. Hal ini sangat penting sekali dalam upaya untuk menggapai cita-cita kemandirian energi. Salah pilihan dalam tahap ini akan mengarahkan pada jalan yang keluar dari jalur, dan endingnya hampa yang didapat. Membuang waktu serta melewatkan momentum yang seharusnya bisa dimanfaatkan sedari awal.
Langkah selanjutnya adalah kemampuan dalam menjaga ketersediaan bahan baku dari sumber energi terbarukan. Sumber energi terbarukan harus memenuhi syarat keberlangsungan, keterjangkauan, serta kemudahan dalam pengembangannya. Ukuran sejauh mana teknologi atupun keilmuan yang kita miliki bisa di jadikan acuan serta realtitas dalam berfikir harus dikedepankan dalam hal ini. Agar keputusan yang diambil tepat dan masuk akal untuk diterapakan di lapangan. Bijaksana dalam berfikir serta kemampuan mengukur kemampuan diri, sehingga bisa menempatkan pada posisi dan jalan yang benar dalam upaya mewujudkan mandiri energi.
Pengaplikasian atau pemanfaatan energi terbarukan yang memang sesuai atau paling dekat dengan kebutuhan masyarakat sudah selayaknya dijadikan pertimbangan utama. Jangan sampai terjebak pada pemahaman atau pemikiran bahwa produk atau konversi energi terbarukan adalah selalu listrik, bahkan terkadang kita kurang menyadari bahwa ada bottle neck dalam pengembangan energi terbarukan ini. Memang tidak mudah menjelaskan hal ini dengan argumen yang berupa tulisan, tentunya lebih efektif dan efisien waktu jika ada sajian produk riil di lapangan, walaupun dalam ukuran skala yang kecil.
Banyak tantangan yang harus dihadapi pada era seperti ini ide, gagasan ataupun pemikiran terkait energi terbarukan sering kali kurang bisa diterima jika tidak inline dengan mindset yang sudah berlangsung selama ini. Sehingga langkah bijak yang bisa dilakukan adalah dengan menjalankan ide, gagasan tersebut secara personal mandiri, termasuk pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan bisa di publish secara online di kanal sendiri.
Fokus pengembangan bioetanol sebagai energi utama masa depan
Bioetanol merupakan salah satu jenis energi terbarukan yang sangat menarik dan layak untuk di kembangkan karena memiliki prospek yang kuat. Hal ini didasari dari melimpahnya bahan baku yang bisa diolah menjadi bioetanol,mudah dalam proses pembuatannya, serta pemakaian bioetanol dalam kehidupan ini sangat luas.
Penerapan dan pemanfaatan energi terbarukan bisa dilakukan atau dimulai dari lingkup yang kecil. Beberapa waktu yang lalu sempat mengemuka trend tentang kompor bioetanol, yang mana saat itu dibarengi dengan isu harga energi serta ketersediaan yang tidak stabil. Namun pada perjalanannya kompor bioetanol tersebut meredup dan produsennya pun banyak yang menghentikan produksinya. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah harga bioetanol yang relatif masih tinggi, bahan baku bioetanol yang belum memadai sehingga harganya tidak ekonomis ditambah berebut dengan sektor pangan, lalu proses pembuatan bioetanol pun yang kurang efisien dan kurang praktis.
Untuk melanjutkan pengembangan bioetanol ini perlu belajar dari pengalaman sebelumnya diantaranya adalah dengan diversifikasi bahan baku bioetanol, dengan memanfaatkan tanaman-tanaman yang memiliki potensi untuk diolah jadi bioetanol, beberapa jenis sudah teridentifikasi diluar yang umum di pergunakan selama ini. Memperbaiki proses produksi bioetanol dengan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan lainnya terutama untuk proses distilasi. Merancang atau membuat alat produksi bioetanol yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan agar lebih efektif, efisien dan ekonomis. Adapun kompor bioetanol yang sebelumnya telah ada, dari sisi fungsi dan sisi pengoperasian sudah cukup memadai terutama kemudahan dalam hal pengoperasian, namun tidak ada jeleknya jika di kembangkan lagi kedepannya.
Tantangan ke depan perlu dihadapi dengan bijak serta kecerdasan salah satunya adalah dengan pemenuhan energi secara mandiri. Hal ini merupakan sebagai bentuk adaptasi untuk merespon perubahan kondisi dunia menuju keseimbangan baru. Ketika menyebutkan atau menyatakan bahwa bioetanol adalah energi pokok masa depan, tentu akan banyak respon yang barangkali kontra dengan pandangan ini. Namun yang perlu dipahami tentang bioetanol ini adalah dari aspek kemudahan, keterjangkauan serta keberlanjutan sudah terpenuhi dan layak. Tinggal bagaimana menjadikan bioetanol ini yang semakin familiar di masyarakat, karena pengembangan bioetanol tidak bisa terlepas dari peran aktif masyarakat, yang mana menjadikan masyarakat sebagai produsen sekaligus user bioetanol.
- Details
- Written by: Administrator
- Category: Opini Energi
- Hits: 65
Sudah kita ketahui bersama bahwa pembangunan PLTA yang ada di tanah air umumnya memanfaatkan bendungan atau waduk sebagai sumber utama tenaga airnya. Namun ada juga yang sebatas memanfaatkan aliran air sungai dengan memodifikasi jalur aliran airnya, biasanya yang model seperti ini kapasitasnya sekelas mini hidro atau mikro hidro. Untuk PLTA waduk atau bendungan biasannya memiliki kapasistas listrik yang jauh lebih besar. Dalam proses operasional PLTA selain produk utamanya listrik ada produk keluaran berupa air yang dikembalikan lagi ke aliran sungai utama, atau di gunakan untuk kebutuhan irigarsi pertanian dan perikanan. Disini terlihat bahwa dalam alur proses produksi suatu PLTA pada umumnya tidak ada produk emisi yang dihasilkan, makanya PLTA disebut ramah lingkungan dan sering di jadikan salah satu benchmark dalam dunia energi hijau. Walaupun demikian pembangunan waduk atau bendungan bisa berdampak merubah kondisi ekosistem yang telah ada sebelumnya.
Dalam pembanguan satu PLTA membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit, sehingga dalam rencana pembangunannya perlu perhitungan dan studi yang matang. Banyak aspek yang akan menjadi pertimbangan saat melakukan studi pembangunan sebuah PLTA. Dalam pelaksanaan pembangunannya pun butuh waktu yang tidak sebentar bahkan ada yang periodenya bertahun-tahun. Sehingga effort dan pengorbanan dalam pembangunan PLTA itu harus diimbangi pula dengan pemanfaatan PLTA se optimal mungkin, apa yang bisa diambil manfaatnya, lakukan!, asal tetap dalam koridor peraturan dan ketentuan yang ada. Masih berkaitan dengan sumber energi terbarukan dari air keluaran PLTA, bahwa produk ini kalau diberdayakan lebih lanjut tentu akan didapat manfaat yang lebih lagi. Dengan mengambil opsi lain diluar untuk pertanian dan perikanan tentunya, ternyata aliran dari air keluaran PLTA masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik lagi yang mana pemakaiannya bukan untuk tujuan komersial langsung namun ditujukan untuk proses produksi bioetanol, lho lha kok bisa …..??? Begini sedikit penjelasannya, secara prinsip ini mirip dengan PLTA induknya namun letak perbedaanya adalah, seperti pemilihan model kincir atau turbin air yang harus menyesuaikan dengan karakter aliran air yang ada. Kapasitas dan kualitas listrik yang dihasilkan pun berbeda dengan PLTA umumnya, katakanlah listrik yang dihasilkan nanti diluar standart aturan yang ada baik dari sisi frekwensi, kestabilan maupun kapasitasnya, namun kondisi ini masih bisa digunakan untuk menghidupkan komponen heater. Karena komponen heater tidak perlu listrik yang specifik, asal tegangan dan arus nya terpenuhi sudah bisa di go head. Selanjutnya komponen heater ini digunakan untuk sumber energi panas alat distilasi bioetanol. Tentunya ada teknik specifik dalam melakukan thermal capture, dan diperlukan kemampuan teknik untuk merancang peralatan pengumpul energi panas agar proses distilasi bisa berjalan efektif dan efisien. Salah satu alat yang bisa di aplikasikan disini adalah thermal battery, yaitu pasir yang ditampung dalam wadah, lalu rangkaian komponen heater di tanam didalamnya. Thermal battery berfungsi untuk menyimpan energi panas dari element heater, sehingga suhu akan terjaga lebih stabil dan distribusinya merata.
Jadi selama PLTA induk beroperasi maka proses panen energi panas untuk produksi bioetanol juga akan running terus. Luas ladang untuk bertani energi panas pun bisa dikatakan sepanjang air itu mengalir, karena dimana ada air mengalir di situ ada energi yang bisa dimanfaatkan. Tentu besar kecilnya energi yang bisa di manfaatkan dari aliran air bergantung pada banyak faktor seperti kecepatan dan kekuatan aliran air.
Ide pemanfaatan air keluaran PLTA ini dalam implementasi atau eksekusi dilapangan sudah pasti akan banyak kendala, karena teritori PLTA ini ada dibawah sebuah korporasi, dan bangunan bendungan serta saluran air yang ada padanya ada dibawah wewenang instansi terkait. Selain itu ide alternatif ini masih perlu dilakukan studi keekonomian dan kelayakan lebih lanjut. Namun semangat masyarakat umum dalam usaha untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan ini bisa di alihkan atau di terapkan pada aliran sungai yang lain. Dengan memodifikasi jalur aliran sungai yang ada, dibuatlah semacam percabangan jalur anak sungai untuk membuat mikro hidro yang listriknya digunakan untuk menghidupkan elemen heater. Anggap saja kegiatan ini sebagai upaya membuka ladang energi thermal untuk produksi bioetanol. Kalau sebelum-sebelumnya membuat mikro hidro itu listriknya untuk kebutuhan penerangan dan peralatan listrik rumah tangga, namun dengan ide ini listrik dari mikro hidro akan dimanfaatkan untuk menghidupkan elemen heater untuk proses distilasi bioetanol.
Memang di akui pemanfaatan mikro hidro untuk listrik rumah tangga perlu effort yang lumayan ribet, karena listrik yang dihasilkan harus stabil baik tegangan maupun frekuensinya, supaya inline dengan standart peralatan listrik yang ada di pasaran ( SNI). Kalau kondisi sumber listrik tadi diluar standart, maka bisa mengakibatkan kerusakan pada peralatan listrik atau elektronik. Lain halnya kalau pemanfaatan listrik untuk menghidupkan komponen heater, yang penting tegangan dan arus nya memenuhi sudah bisa di mainkan. Wilayah Indonesia memiliki sungai yang sangat banyak dan tersebar diberbagai daerah, tentu dengan karakteristik yang bervariasi baik dari segi ukuran atau bentangan, maupun debit aliran air. Potensi ini jangan dibiarkan tidur atau tidak di berdayakan. Mindsetnya harus di geser bahwa pemanfaatan alran sungai tidak harus untuk PLTA yang umum seperti selama ini, ada opsi tambahan lain yaitu PLTA yang listriknya untuk memproduksi thermal energy yang dipadukan dengan produksi bioetanol.
Tulisan ini sebelumnya di submit ke website energi terbarukan, tetapi karena lama tidak publish & terakhir di minta untuk mereview ulang serta mengklarifikasi banyak hal dari tulisan , akhirnya penulis memilih untuk posting di blog sendiri.
- Details
- Written by: Administrator
- Category: Opini Energi
- Hits: 48
Indonesia merupakan negara yang potensi energi panas buminya atau geothermal diakui sangat besar. Hal ini bisa kita ketahui dari publikasi pemberitaan maupun jurnal penelitian yang dilakukan banyak pihak yang memang punya kompetensi dibidangnya. Secara geografis sebagian wilayah indonesia memang berada pada jalur ring of fire dunia, sehingga banyak gunung berapi dan sumber panas bumi di jalur tersebut. Bisa dikatakan bahwa ada sisi positif dan negatifnya dengan kondisi wilayah seperti ini. Dengan posisi berada di jalur cicin api dunia serta banyaknya gunung api tentu ada faktor resiko bencana alam seperti gempa bumi serta erupsi gunung berapi. Namun disisi lain sumber panas bumi yang banyak tersebar di banyak wilayah Indonesia adalah satu anugerah yang luar biasa karena dapat menjadi sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
Potensi sumber panas bumi umumnya di gunakan untuk menghasilkan energi listrik, yang mana tekanan uap air dari panas bumi di gunakan sebagai tenaga untuk memutar turbin uap yang terhubung dengan mesin generator listrik sehingga dihasilkan produk akhir berupa listrik yang akan di salurkan ke jaringan distribusi. Namun perlu diketahui bahwa biaya investasi untuk membuat power generator tenaga panas bumi tidak lah murah, yang mana butuh teknologi maju, perlu pendanaan atau investor, serta kepastian penyerapan pasar yang harus jelas dan ditambah lagi tingkat resiko keselamatan yang tinggi baik untuk keselamatan manusia maupun lingkungan.
Selain faktor tersebut dalam beberapa kasus rencana pembangunan panas bumi juga mendapat resistensi dari masyarakat diwilayah dimana proyek panas bumi berada. Masyarakat umumnya merasa khawatir akan terjadi kerusakan lingkungan ketika proyek panas bumi hadir, terutama berkaitan denagn sumber air tanah, alasan inilah yang biasanya mendasari penolakan tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa operasional pembangkit listrik geothermal membutuhkan konsumsi air untuk memastikan tekanan uap tetap terjaga. Inilah yang dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan air tanah di wilayah proyek geothermal.
Dalam pengembangan proyek geothermal perlu langkah yang bijak dan harus tetap menjunjung asas keadilan bagi masyarakat sekitar. Negara yang memiliki kepentingan untuk bisa mengekploitasi geothermal demi kepentingan nasional dan orang banyak, programnya harus bisa tetap jalan, disatu sisi masyarakat sekitar juga harus bisa merasakan kenyamanan, tidak khawatir lingkungan sekitarnya rusak. Disinilah perlu adanya langkah alternatif yang bisa menjadi solusi jalan keluar agar dua kepentingan tersebut bisa diakomodir. Sehingga kehadiran proyek geothermal harus bisa menjadi kegembiraan bagi masyarakat bukan malah menjadi momok yang menakutkan yang membuat hak mereka tersisih.
Produk geothermal tidak cuma tekanan uapnya saja yang bisa dimanfaatkan, temperatur uap yang dihasilkannya pun sebetulnya bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah untuk proses produksi bioetanol. Peralatan distilasi bioetanol itu relatif sederhana, apalagi untuk skala kecil, tidak harus beroperasi secara otomatis. Namun untuk skala produksi yang besar akan diperlukan sistem control otomatis ( DCS atau PLC ) baik itu untuk proses produksinya maupun sistem safety nya. Disini ilmu seni dalam teknik me- utitize suhu panas dari geothermal memiliki peran yang penting. Dengan hanya memanfaatkan fluida yang keluar dari sumur panas bumi, tentu tidak diperlukan lagi konsumsi air untuk menjamin tekanan uap air terjaga yang mana ini adalah salah s
atu komponen penting untuk menggerakan mesin turbin uap. Uap air yang bersuhu panas dan keluar secara natural di capture lalu dijadikan sumber energi terbarukan untuk proses distilasi bioetanol. Disini istilah mengcapture suhu panas untuk konversi energi terbarukan akan semakin ngetrend kedepannya. Sangat dimungkinkan dari pemanfaatan geothermal untuk produksi bioetanol ini akan tercipta satu layer roda ekonomi baru, masyarakat sekitar bisa diajak untuk turut serta menjadi pensuplai bahan baku bioetanol. Dalam hal ini masyarakat sekitar menjadi pembudidaya tanaman yang nanti hasil panennya bisa dijadikan bahan baku bioetanol. Dalam jumlah yang cukup banyak, produk bioetanol bisa digunakan sebagai alternatif bahan bakar generator turbin uap di tempat lain.
Jadi opsi mengkonversi energi geothermal untuk produksi bioetanol, selanjutnya bioetanol dikonversi menjadi listrik atau dipakai kebutuhan energi lain , akan lebih memberi nilai positif dan konstruktif dibandingkan dengan mengkonversi secara langsung dari geothermal menjadi listrik untuk di distribusikan . Hal ini mungkin bisa dijadikan semacam paradigma baru kedepan untuk bagaimana memberdayakan dan menghidupkan sumber-sumber energi terbarukan lainnya secara tepat sehingga bisa di peroleh manfaatnya secara optimal.
Tulisan ini sebelumnya di submit ke website energi terbarukan, namun karena lama tidak publish & terakhir di minta untuk mereview ulang serta mengklarifikasi banyak hal dari tulisan , akhirnya penulis memilih untuk posting di blog sendiri.
- Details
- Written by: Administrator
- Category: Opini Energi
- Hits: 117
Beragam pandangan, ide, maupun inisiatif yang berkaiatan dengan energi, khususnya pengganti elpi7i akan semakin menambah semangat untuk terus belajar dan berinovasi. Peran insan-insan yang peduli dengan kemandirian energi sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dukungan dari masyarakat luas akan hadir jika hasil karya ataupun ide dari para penggiat energi terbarukan memberikan hal yang positif bagi masyarakat.
Tingkat ketergantungan dan kebutuhan akan elpi7i terasa meningkat dari waktu ke waktu. Masyarakat seolah tidak ada alternatif lain selain elpi7i. Tentu tidak semua lapisan masyarakat bergantung pada elpi7i, contohnya dapat kita saksikan sebagian masyarakat di pedesaan masih ada yang memakai kayu bakar maupun arang. Hal ini sebetulnya dapat dilihat sebagai contoh kecil apa yang namanya kemandirian energi. Arang maupun kayu bakar di hasilkan bukan dari perusahaan yang besar, namun dilakukan oleh usaha-usaha kecil masyarakat. Memang diakui pemanfaatan arang maupun kayu bakar dari beberapa segi dirasa kurang bisa memenuhi tuntutan bagi masayarakat modern. Namun faktanya belum pernah terdengar ataupun tercipta dalam sejarah indonesia ada kelangkaan arang maupun kayu bakar. Disini ada pelajaran penting yang bisa di petik dan menjadi kesimpulan dan keyakinan bagi si blogger, bahwa kemandirian energi itu bisa dicapai dari peran masyarakat sendiri bukan dari perusahaan besar maupun suatu instansi terkait. Penggunaan arang dan kayu bakar merupakan tradisi atau cara yang telah lama dilakukan oleh mbah-mbah kita dulu. Hal itu mewariskan suatu kearifan kepada kita sebagai generasi penerusnya, tentang bagaimana cara menjalani kehidupan ini dengan mandiri energi. Dengan adanya kesempatan belajar yang luas untuk menimba ilmu serta akses fasilitas belajar yang semakin mudah, harusnya kita bisa lebih mengembangkan lagi warisan ilmu luhur dari mbah-mbah kita dulu.
Berkaitan cerita tentang arang dan kayu bakar ini si blogger mengambil salah satu nilai pelajaran yang sangat berharga disini, yaitu suatu kesimpulan penting bahwa kemandirian energi bisa di capai dengan cara yang mudah, murah dan sangat terjangkau karena dekat sekitar kita, tanpa harus menggantungkan harapan pada perusahaan ataupun instansi tertentu.
Namun satu hal yang membedakan adalah objek nya, disini si blogger memilih bioetanol sebagai bahan energi terbarukan sebagai pengganti arang dan kayu bakar. Dalam beberapa aspek bioetanol memiliki kelebihan baik itu dari segi ekonomis, fleksibelitas maupun aksesibilitas. Bioetanol ini sumber bahan bakunya sangat melimpah dan beragam, kondisi ini menutup kemungkinan adanya monopoli oleh beberapa pihak saja. Untuk skala rumah tangga pun pembuatan bioetanol sangat memungkinkan untuk di kerjakan secara mandiri.