Beberapa jenis tanaman telah diketahui sejak lama, sebagai tanaman penghasil bioenergi, baik itu untuk biodiesel maupun bioetanol. Tanaman penghasil bioenergi ini ada yang dibudidayakan di lahan perkebunan maupun di lahan persawahan. Bahkan di era sekarang ini banyak lahan hutan yang dijadikan lahan perkebunan.
Untuk mengatasi kondisi ini seharusnya ada solusi yang tepat untuk menentukan jenis tanaman penghasil bioenergi. Masyarakat bisa dilibatkan dalam upaya membudidayakan tanaman bioenergi, sinergi ini bisa menekan biaya serta mempercepat kemandirian energi dalam arti yang sebenarnya.
Wilayah jawa tengah terbukti cocok dengan berbagai tanaman yang bisa diolah menjadi bioenergi. Untuk pengembangan kapasitas yang besar perlu di pilih jenis tanaman yang tidak membutuhkan lahan yang luas serta tidak rakus dengan pupuk kimia. Sehingga masyarakat yang hanya memiliki lahan terbatas pun masih bisa berpartisipasi untuk menanam tanaman bioenergi. Tanaman seperti jagung,singkong, sorgum, dan tebu perlu biaya yang tidak sedikit dalam budidayanya. Sedangkan aren, kelapa, sawit dan nipah perlu lahan yang luas serta ongkos produksinya juga besar termasuk untuk biaya menggaji pegawai. Jenis tanaman tersebut bisa saja dijadikan sebagai tanaman sekunder atau tanaman pendukung untuk pemenuhan bahan baku bioenergi.
Beberapa jenis tanaman buah-buahan juga bisa dijadikan tanaman pendukung dalam program pengembangan bioenergi ini. Namanya juga tanaman buah sudah pasti perlu perawatan dan biaya dalam budidayanya, sehingga kurang cocok untuk dijadikan tanaman primer bioenergi.