Sebuah kalimat ataupun rangkaian kalimat tentang kemandirian energi, ketahanan energi, swasembada energi dan lain sebagainnya, yang tentunya masih berkaitan dengan energi seakan menjadi topik yang semakin menarik untuk di bahas. Berbagai pihak seperti korporasi, pemangku kepentingan, praktisi, dan akademisi, saling memberi sumbangan pemikiran, pandangan, pengetahuan dan keilmuan dalam menyongsong perubahan jaman yang di tandai dengan beralihnya pemakaian energi dari fosil ke energi terbarukan. Tentunya hal ini bisa kita tangkap sebagai sinyal positif dalam usaha untuk mengembangkan energi terbarukan, artinya sudah ada kepedulian untuk memikirkan pilihan sumber energi di masa depan. Di sisi lain juga telah tumbuh kesadaran bahwa penggunaan energi fosil itu ada batasnya. Beragamnya pendapat , argumen, ide serta praktek-praktek dilapangan akan menjadikan pengembangan energi terbarukan akan semakin dinamis kedepannya. Kondisi yang positif ini bisa mengubah grafik perkembangan energi terbarukan terhadap waktu, yang tadinya terkesan seperti garis linear akan berubah menjadi eksponensial.
Dari serangkaian pengamatan serta percobaan yang telah dilakukan, setidaknya ada satu pemahaman penting yang bisa didapat terkait bagaimana membangun kemandirian energi berbasis energi terbarukan ini. Dari sekian banyaknya sumber-sumber energi terbarukan yang ada di bumi ini, sangat diperlukan kemampuan yang tepat dalam mengidentifikasi dan menentukan jenis energi terbarukan apa yang harus dijadikan sebagai energi utamanya. Hal ini sangat penting sekali dalam upaya untuk menggapai cita-cita kemandirian energi. Salah pilihan dalam tahap ini akan mengarahkan pada jalan yang keluar dari jalur, dan endingnya hampa yang didapat. Membuang waktu serta melewatkan momentum yang seharusnya bisa dimanfaatkan sedari awal.
Langkah selanjutnya adalah kemampuan dalam menjaga ketersediaan bahan baku dari sumber energi terbarukan. Sumber energi terbarukan harus memenuhi syarat keberlangsungan, keterjangkauan, serta kemudahan dalam pengembangannya. Ukuran sejauh mana teknologi atupun keilmuan yang kita miliki bisa di jadikan acuan serta realtitas dalam berfikir harus dikedepankan dalam hal ini. Agar keputusan yang diambil tepat dan masuk akal untuk diterapakan di lapangan. Bijaksana dalam berfikir serta kemampuan mengukur kemampuan diri, sehingga bisa menempatkan pada posisi dan jalan yang benar dalam upaya mewujudkan mandiri energi.
Pengaplikasian atau pemanfaatan energi terbarukan yang memang sesuai atau paling dekat dengan kebutuhan masyarakat sudah selayaknya dijadikan pertimbangan utama. Jangan sampai terjebak pada pemahaman atau pemikiran bahwa produk atau konversi energi terbarukan adalah selalu listrik, bahkan terkadang kita kurang menyadari bahwa ada bottle neck dalam pengembangan energi terbarukan ini. Memang tidak mudah menjelaskan hal ini dengan argumen yang berupa tulisan, tentunya lebih efektif dan efisien waktu jika ada sajian produk riil di lapangan, walaupun dalam ukuran skala yang kecil.
Banyak tantangan yang harus dihadapi pada era seperti ini ide, gagasan ataupun pemikiran terkait energi terbarukan sering kali kurang bisa diterima jika tidak inline dengan mindset yang sudah berlangsung selama ini. Sehingga langkah bijak yang bisa dilakukan adalah dengan menjalankan ide, gagasan tersebut secara personal mandiri, termasuk pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan bisa di publish secara online di kanal sendiri.
Fokus pengembangan bioetanol sebagai energi utama masa depan
Bioetanol merupakan salah satu jenis energi terbarukan yang sangat menarik dan layak untuk di kembangkan karena memiliki prospek yang kuat. Hal ini didasari dari melimpahnya bahan baku yang bisa diolah menjadi bioetanol,mudah dalam proses pembuatannya, serta pemakaian bioetanol dalam kehidupan ini sangat luas.
Penerapan dan pemanfaatan energi terbarukan bisa dilakukan atau dimulai dari lingkup yang kecil. Beberapa waktu yang lalu sempat mengemuka trend tentang kompor bioetanol, yang mana saat itu dibarengi dengan isu harga energi serta ketersediaan yang tidak stabil. Namun pada perjalanannya kompor bioetanol tersebut meredup dan produsennya pun banyak yang menghentikan produksinya. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah harga bioetanol yang relatif masih tinggi, bahan baku bioetanol yang belum memadai sehingga harganya tidak ekonomis ditambah berebut dengan sektor pangan, lalu proses pembuatan bioetanol pun yang kurang efisien dan kurang praktis.
Untuk melanjutkan pengembangan bioetanol ini perlu belajar dari pengalaman sebelumnya diantaranya adalah dengan diversifikasi bahan baku bioetanol, dengan memanfaatkan tanaman-tanaman yang memiliki potensi untuk diolah jadi bioetanol, beberapa jenis sudah teridentifikasi diluar yang umum di pergunakan selama ini. Memperbaiki proses produksi bioetanol dengan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan lainnya terutama untuk proses distilasi. Merancang atau membuat alat produksi bioetanol yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan agar lebih efektif, efisien dan ekonomis. Adapun kompor bioetanol yang sebelumnya telah ada, dari sisi fungsi dan sisi pengoperasian sudah cukup memadai terutama kemudahan dalam hal pengoperasian, namun tidak ada jeleknya jika di kembangkan lagi kedepannya.
Tantangan ke depan perlu dihadapi dengan bijak serta kecerdasan salah satunya adalah dengan pemenuhan energi secara mandiri. Hal ini merupakan sebagai bentuk adaptasi untuk merespon perubahan kondisi dunia menuju keseimbangan baru. Ketika menyebutkan atau menyatakan bahwa bioetanol adalah energi pokok masa depan, tentu akan banyak respon yang barangkali kontra dengan pandangan ini. Namun yang perlu dipahami tentang bioetanol ini adalah dari aspek kemudahan, keterjangkauan serta keberlanjutan sudah terpenuhi dan layak. Tinggal bagaimana menjadikan bioetanol ini yang semakin familiar di masyarakat, karena pengembangan bioetanol tidak bisa terlepas dari peran aktif masyarakat, yang mana menjadikan masyarakat sebagai produsen sekaligus user bioetanol.