Crab Nebula
www.nasa.gov/multimedia/imagegallery

"Salah satu sumber utama energi terbarukan adalah dari tanaman". Dengan kondisi iklim dan geografis yang cocok untuk berbagai tanaman, seharusnya hal ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku bioenergi yang melimpah sejak dari zaman dahulu kala.

Sebetulnya banyak jenis tanaman yang bisa diolah untuk menghasilkan bioetanol. Contoh tanaman sawah  yang umum diketahui masyarakat luas seperti adalah jagung, sorgum, singkong,  dan tebu dan lain sebagainya.  Sedangkan kalau di lahan pekebunan biasanya aren, siwalan, kelapa, sawit, kurma dan beberapa jenis buah-buahan. Namun perlu di ketahui bahwa jenis tanaman yang disebutkan tersebut butuh biaya perawatan, butuh lahan yang luas, perlu ongkos bayar pekerja serta biaya-biaya lain, artinya akan sulit berjalan dan berkembang jika hal ini di lakukan oleh perseorangan atau individu. Lain cerita  kalau yang menjalankan adalah suatu korporasi atau pemilik modal yang kuat.

Sebagai individu tentu penulis memiliki pandangan dan pendapat sendiri dalam menilai makna kemandirian energi ini. Ide dan pemikiran penulis dimulai dari lingkup terkecil dulu yaitu bagaimana cara membuat kompor bioetanol, dengan bahan bakar yang diproduksi sendiri yang mana bahan baku pun di panen dari tanaman yang dibudidayakan di pekarangan rumah sendiri. Serta dalam proses pembuatan bioetanol pun hanya menggunakan peralatan yang sederhana serta tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Dalam hal pemilihan jenis tanaman utama bioetanol penulis mencari kriteria tanaman  yang tidak membutuhkan ruang yang luas, tidak mengenal musim untuk berbuah, tidak rakus pupuk kimia, tidak rakus air serta perawatan yang relatif mudah. Tanaman pilihan dari penulis ini juga harus tahan terhadap gempuran air hujan dan memiliki varietas yang beragam, dan ternyata itu ada !!!.

Terkadang atau sering kali kita terlalu fokus pada sesuatu hal yang sudah establish sejak lama. Daya imajinasi dan inovasi kita menjadi tumpul sehingga sesuatu yang memiliki nilai tinggi dan strategis pun diabaikan begitu saja. Barangkali faktor uang lah yang telah mengacaukan kemampuan kita dalam memilah strategi untuk mengembangkan bioenergi. Karena kalau diperhatikan dengan seksama segala aktifitas atau kegiatan pembangunan bioenergi selalu langsung ditujukan ke masalah uang, yaitu menguntungkan atau tidak.