Sudah kita ketahui bersama bahwa pembangunan PLTA yang ada di tanah air umumnya memanfaatkan bendungan atau waduk sebagai sumber utama tenaga airnya. Namun ada juga yang sebatas memanfaatkan aliran air sungai dengan memodifikasi jalur aliran airnya, biasanya yang model seperti ini kapasitasnya sekelas mini hidro atau mikro hidro. Untuk PLTA waduk atau bendungan biasannya memiliki kapasistas listrik yang jauh lebih besar. Dalam proses operasional PLTA selain produk utamanya listrik ada produk keluaran berupa air yang dikembalikan lagi ke aliran sungai utama, atau di gunakan untuk kebutuhan irigarsi pertanian dan perikanan. Disini terlihat bahwa dalam alur proses produksi suatu PLTA pada umumnya tidak ada produk emisi yang dihasilkan, makanya PLTA disebut ramah lingkungan dan sering di jadikan salah satu benchmark dalam dunia energi hijau. Walaupun demikian pembangunan waduk atau bendungan bisa berdampak merubah kondisi ekosistem yang telah ada sebelumnya.
Dalam pembanguan satu PLTA membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit, sehingga dalam rencana pembangunannya perlu perhitungan dan studi yang matang. Banyak aspek yang akan menjadi pertimbangan saat melakukan studi pembangunan sebuah PLTA. Dalam pelaksanaan pembangunannya pun butuh waktu yang tidak sebentar bahkan ada yang periodenya bertahun-tahun. Sehingga effort dan pengorbanan dalam pembangunan PLTA itu harus diimbangi pula dengan pemanfaatan PLTA se optimal mungkin, apa yang bisa diambil manfaatnya, lakukan!, asal tetap dalam koridor peraturan dan ketentuan yang ada. Masih berkaitan dengan sumber energi terbarukan dari air keluaran PLTA, bahwa produk ini kalau diberdayakan lebih lanjut tentu akan didapat manfaat yang lebih lagi. Dengan mengambil opsi lain diluar untuk pertanian dan perikanan tentunya, ternyata aliran dari air keluaran PLTA masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik lagi yang mana pemakaiannya bukan untuk tujuan komersial langsung namun ditujukan untuk proses produksi bioetanol, lho lha kok bisa …..??? Begini sedikit penjelasannya, secara prinsip ini mirip dengan PLTA induknya namun letak perbedaanya adalah, seperti pemilihan model kincir atau turbin air yang harus menyesuaikan dengan karakter aliran air yang ada. Kapasitas dan kualitas listrik yang dihasilkan pun berbeda dengan PLTA umumnya, katakanlah listrik yang dihasilkan nanti diluar standart aturan yang ada baik dari sisi frekwensi, kestabilan maupun kapasitasnya, namun kondisi ini masih bisa digunakan untuk menghidupkan komponen heater. Karena komponen heater tidak perlu listrik yang specifik, asal tegangan dan arus nya terpenuhi sudah bisa di go head. Selanjutnya komponen heater ini digunakan untuk sumber energi panas alat distilasi bioetanol. Tentunya ada teknik specifik dalam melakukan thermal capture, dan diperlukan kemampuan teknik untuk merancang peralatan pengumpul energi panas agar proses distilasi bisa berjalan efektif dan efisien. Salah satu alat yang bisa di aplikasikan disini adalah thermal battery, yaitu pasir yang ditampung dalam wadah, lalu rangkaian komponen heater di tanam didalamnya. Thermal battery berfungsi untuk menyimpan energi panas dari element heater, sehingga suhu akan terjaga lebih stabil dan distribusinya merata.
Jadi selama PLTA induk beroperasi maka proses panen energi panas untuk produksi bioetanol juga akan running terus. Luas ladang untuk bertani energi panas pun bisa dikatakan sepanjang air itu mengalir, karena dimana ada air mengalir di situ ada energi yang bisa dimanfaatkan. Tentu besar kecilnya energi yang bisa di manfaatkan dari aliran air bergantung pada banyak faktor seperti kecepatan dan kekuatan aliran air.
Ide pemanfaatan air keluaran PLTA ini dalam implementasi atau eksekusi dilapangan sudah pasti akan banyak kendala, karena teritori PLTA ini ada dibawah sebuah korporasi, dan bangunan bendungan serta saluran air yang ada padanya ada dibawah wewenang instansi terkait. Selain itu ide alternatif ini masih perlu dilakukan studi keekonomian dan kelayakan lebih lanjut. Namun semangat masyarakat umum dalam usaha untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan ini bisa di alihkan atau di terapkan pada aliran sungai yang lain. Dengan memodifikasi jalur aliran sungai yang ada, dibuatlah semacam percabangan jalur anak sungai untuk membuat mikro hidro yang listriknya digunakan untuk menghidupkan elemen heater. Anggap saja kegiatan ini sebagai upaya membuka ladang energi thermal untuk produksi bioetanol. Kalau sebelum-sebelumnya membuat mikro hidro itu listriknya untuk kebutuhan penerangan dan peralatan listrik rumah tangga, namun dengan ide ini listrik dari mikro hidro akan dimanfaatkan untuk menghidupkan elemen heater untuk proses distilasi bioetanol.
Memang di akui pemanfaatan mikro hidro untuk listrik rumah tangga perlu effort yang lumayan ribet, karena listrik yang dihasilkan harus stabil baik tegangan maupun frekuensinya, supaya inline dengan standart peralatan listrik yang ada di pasaran ( SNI). Kalau kondisi sumber listrik tadi diluar standart, maka bisa mengakibatkan kerusakan pada peralatan listrik atau elektronik. Lain halnya kalau pemanfaatan listrik untuk menghidupkan komponen heater, yang penting tegangan dan arus nya memenuhi sudah bisa di mainkan. Wilayah Indonesia memiliki sungai yang sangat banyak dan tersebar diberbagai daerah, tentu dengan karakteristik yang bervariasi baik dari segi ukuran atau bentangan, maupun debit aliran air. Potensi ini jangan dibiarkan tidur atau tidak di berdayakan. Mindsetnya harus di geser bahwa pemanfaatan alran sungai tidak harus untuk PLTA yang umum seperti selama ini, ada opsi tambahan lain yaitu PLTA yang listriknya untuk memproduksi thermal energy yang dipadukan dengan produksi bioetanol.
Tulisan ini sebelumnya di submit ke website energi terbarukan, tetapi karena lama tidak publish & terakhir di minta untuk mereview ulang serta mengklarifikasi banyak hal dari tulisan , akhirnya penulis memilih untuk posting di blog sendiri.