Sumber kekayaan energi yang tersedia melimpah ruah !!!
Mengenal kekayaan alam yang memberikan sumber energi sepanjang masa. Energi terbarukan merupakan istilah yang telah lama dikenal masyarakat baik itu didapat pada pelajaran di sekolah maupun dari tayangan media masa. Kita dapat memanfaatkan serta mengolah energi terbarukan ini tanpa khawatir akan habis tidak seperti halnya dengan energi fosil. Salah satu energi terbarukan yang kami tekuni adalah bioetanol, yaitu etanol yang berasal dari tanaman. Dengan meningkatkan budidaya tanaman penghasil bioetanol tentunya akan bisa menjaga ketahanan energi di masyarakat.
Sebagai dasar pengembangan energi terbarukan adalah kesadaran akan manfaat yang besar mulai dari proses ketersediaannya hingga produk akhirnya serta tidak kalah penting adalah faktor keberlanjutannya!
Energi Terbarukan Bisa Diberdayakan Oleh Semua Orang
Sebagai penggiat energi terbarukan tentunya berkeinginan untuk menghilangkan pandangan atau persepsi yang tumbuh di masyarakat bahwa untuk bisa memberdayakan ataupun memproduksi energi terbarukan harus dengan modal besar serta lahan yang luas. Selain itu ada keinginan juga untuk melakukan edukasi dan mengenalkan pengetahuan tentang energi terbarukan ini.
Salah satu upaya untuk menekan ongkos listrik bulanan bisa di lakukan dengan menyediakan generator listrik sendiri di rumah secara mandiri. Contoh yang sedang nge-trend saat ini adalah penggunaan solar cell. Namun sebagian besar masyarakat belum begitu familiar dengan solar cell ini, selain itu perlu biaya yang tidak sedikit untuk memilikinya. Seiring dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang energi terbarukan, secara alami masyarakat akan lebih cenderung untuk memiliki pembangkit listrik mandiri ke depannya
"Salah satu sumber utama energi terbarukan adalah dari tanaman". Dengan kondisi iklim dan geografis yang cocok untuk berbagai tanaman, seharusnya hal ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku bioenergi yang melimpah sejak dari zaman dahulu kala.
Sebetulnya banyak jenis tanaman yang bisa diolah untuk menghasilkan bioetanol. Contoh tanaman sawah yang umum diketahui masyarakat luas seperti adalah jagung, sorgum, singkong, dan tebu. Sedangkan kalau di lahan pekebunan biasanya aren, siwalan, kelapa, sawit, kurma dan beberapa jenis buah-buahan. Namun perlu di ketahui bahwa jenis tanaman yang disebutkan tersebut butuh biaya perawatan, butuh lahan yang luas, perlu ongkos bayar pekerja serta biaya-biaya lain, artinya akan sulit bertahan dan berkembang jika hal ini di jalankan oleh perseorangan atau individu. Lain cerita kalau yang menjalankan adalah suatu korporasi atau pemilik modal yang kuat.
Bioetanaol adalah etanol yang diolah dari tanaman, bisa dari buah, batang ataupun daunnya. Bioetanol dapat dimanfaatkan untuk bidang medik, kecantikan, makanan serta bidang energi. Bioetanol memiliki sifat mudah menguap serta mudah terbakar. Dari sifat mudah terbakar ini mendorong pemanfaatan bioetanol untuk bahan bakar kompor rumah tangga.
Dalam menjalankan bisnis usaha tentu ada ongkos produksi yang harus dikeluarkan. Salah satu cara untuk mengurangi ongkos produksi adalah dengan menekan biaya pemakaian energi. Pemanfaatan energi terbarukan dalam menjalankan usaha dapat membantu mengurangi ongkos produksi secara signifikan.
Secara prinsip kerja kompor jenis ini , berbeda dengan kompor bioetanol yang bertekanan, terutama berkaitan dengan prosses feeding bahan bakar untuk pembakaran. Kalau kompor yang tidak bertekanan tidak memerlukan kompresi atau memompa untuk mengalirkan bahan bakar bioetanol. Teknik ini bisa diterapkan dengan menggunakan teknik penyerapan biasanya menggunakan kain sumbu, atau teknik lain menggunakan prinsip gravitasi dalam mendeliver bahan bakar.
Untuk kompor bioetanol yang tidak bertekanan ini bisa dikatakan cocok untuk pemakaian kebutuhan rumah tangga. Karena lebih silence dibanding kompor bioetanol bertekanan. Selain itu nyala apinya juga sudah memenuhi apa yang dibutuhkan orang untuk memasak. Tentunya dari faktor keamanan juga lebih save karena bahan bakar bioetanolnya dalam kondisi tidak bertekanan.
Dari segi harga, kompor bioetanol tidak bertekanan ini lebih murah karena biaya pembuatan kompor tidak semahal kompor bertekanan. Bentuk maupun model kompor bioetanol tak bertekanan ini sangat beragam baik dari segi desain produk maupun ukurannya, jadi tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Sifat bioetanol yang mudah menguap serta mudah terbakar ini bisa dimanfaatkan secara positif untuk kompor tidak bertekanan. Dan dari dua hal ini bisa dikatakan bahwa kompor bioetanol jauh lebih baik dari pada menggunakan bahan bakar konvensional yaitu energi fosil.
Pengembangan kompor bioetanol tidak bertekanan ini merupakan salah satu kegiatan untuk mendorong kemandirian energi berbasis energi terbarukan. Lebih dari itu akan semakin menguatkan posisi bioetanol dalam pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat luas kedepannya. Nilai positif yang patut menjadi perhatian disini adalah bahwa langkah ini tidak perlu anggaran dana yang besar, tidak perlu di bungkus dengan istilah proyek nasional, yang di perlukan adalah dari kontribusi orang per orang, dimulai dari gerakan individu.
Bioetanol bukanlah suatu ilusi, melihat dan menilai bioetanol harus dengan paradigma objektif bahwa sumber energi terbarukan ini bisa diberdayakan secara mandiri, baik dari segi ketersediaan bahan baku, proses pembuatan bioetanol maupun penerapannya didalam kehidupan masyarakat.