Suatu realita yang telah berlangsung lama bahkan hingga sampai sekarang ini (saat tulisan ini di buat), bahwa bioetanol itu harganya tidak ekonomis utamanya bagi konsumen sebagai penggunannya. Kalau ingin di cermati lebih dalam lagi kenapa harga jadi dari bioetanol itu tergolong tinggi, tentu kita akan bisa menemukan point-point masalah tersebut. Regulasi ataupun tarif pajak jangan di jadikan sebagai alasan  penyebab harga bioetanol itu tinggi sehingga menghambat perkembangan bioetanol, yang mana sering kali di suarakan oleh beberapa kalangan. Memang diakui terkadang regulasi atupun birokrasi jika dilihat dari sudut  pandang yang berbeda akan terkesan tidak akomodatif dengan perkembangan situasi kondisi saat ini, satu sisi ingin mengembangkan bioetanol sisi yang lain ada regulasi dan birokrasi yang harus dipatuhi. Untuk itu perlu adanya komunikasi dan diskusi antar lintas kepentingan agar pengembangan bioetanol ini bisa berjalan lancar sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan rakyat.

Bioetanol untuk energi merupakan satu komoditas yang prospek dari sisi bisnis, maka dari itu sudah seharusnya tetap mengikuti aturan atau regulasi yang berlaku termasuk urusan pajak. Dalam menjalankan bisnis atau usaha, keuntungan adalah hasil yang harus diraih, termasuk dalam usaha produksi bioetanol untuk energi, jika tidak menguntungkan maka tidak ada orang yang akan terjun dalam bisnis ini, dan ujungnya energi bioetanol tidak akan bisa berkembang alias mandeg. Namun bioetanol ini sebetulnya sangat fleksibel, jadi tidak harus langsung di terapkan menjadi komoditas perdagangan. Ada satu tahap lagi yang  mana pada titik inilah saatnya melakukan monetize, sehingga pengembangan bioetanol masih bisa dijalankan walaupun dengan tidak secara langsung menjadikan bioetanol sebagai komuditas perdagangan. Inilah peluang yang bisa diambil dan dimanfaatkan untuk membuka jalan peluang bisnis yang lainnya.

 

Mungkin dengan kondisi enviromen yang ada sekarang ini, menjalankan usaha bioetanol dengan menjadikan sebagai komoditas perdagangan atau objek yang langsung di jual ke konsumen akan menemui kendala di harga jualnya yaitu kurang ekonomis sehingga tidak kompetitif. Makanya tidak heran jika beberapa kalangan yang menyoroti sisi regulasi ini, dengan menyuarakan agar  supaya bioetanol mendapat perhatian dari sisi regulasi dan birokrasi, dan ini seolah menjadi topik yang tidak ada endingnya sampai lupa bahwa waktu terus berjalan.
Tentunya sebagai penggiat energi terbarukan bioetanol tidak menghendaki hal ini terjadi terus menerus tanpa ada solusi nyata dan bermanfaat pada rakyat. Didasari dengan kemampuan yang bisa di pertanggungjawabkan, tidak ada salahnya jika di sampaikan suatu gagasan terkait energi bioetanol ini, terutama memposisikan bioetanol pada jalur yang benar dan tepat agar bioetanol ini bisa berkembang, tanpa melanggar regulasi yang ada dan bisa membangun ekonomi masyarakat berkembang secara adil.

 


Tiga hall utama yang harus bisa di penuhi jika kita ingin berbicara bioetanol secara berbobot, yang mana semuanya sudah secara sekilas di sampaikan di content blog ini, seperti pemilihan sumber bahan baku yang tepat, pengolahan produksi bioetanol yang ekonomis dan terakhir adalah peralatan pengguna bioetanol. Bagaimanapun produk yang bagus dan bermanfaat jika di taruh pada jalur yang tidak tepat maka tidak akan didapat manfaatnya secara optimal. Bioetanol jika kita produksi dengan orientasi untuk di jual ke konsumen tentunya harus mengikuti regulasi pemerintah, akan berhadapan dengan birokrasi dan masalah sosial lainnya, tentunya hal ini sesuatu yang tidak mudah untuk dilewati jika kita akan memulai bisnis energi bioetanol. 

 

Dari pengamatan dan studi yang dilakukan penulis, bioetanol itu harus di handle atau ditangani secara mandiri oleh masyakarat, baik itu secara perseorangan atau lingkup keluarga. Produk bioetanol yang dihasilkan jangan langsung di jual kekonsumen, cukup di pakai sendiri. Sehingga hal ini tidak perlu lagi mengikuti standar regulasi yang ada. Bioetanol yang dihasilkan bisa digunakan untuk menjalankan usaha yang lain. Dalam menjalankan produksi bioetanol ini tidak perlu kapasitas besar, sehari 1 liter atau 2 liter sudah cukup untuk menjalankan usaha kecil serta memenuhi kebutuhan memasak sehari hari. Pada sampai di titik kondisi ini anda akan 100% lepas dari ketergantungan energi fosil !!.

Dengan produksi kapasitas kecil (1 ltr – 2 ltr/hari) dan di pakai sendiri,kita tidak akan di sibukan dengan urusan regulasi  dan birokrasi. Ketika kita sudah mampu menyediakan bahan baku sendiri, mampu memproduksi sendiri, sampai bisa memanfaatkannya sendiri tanpa harus tergantung ke pihak lain, artinya langkah kita sudah benar dan tepat.
Adapun sasaran dari konsep kemandirian energi yang penulis sampaikan disini adalah ditujukan untuk perorangan atau lingkup keluarga sebagai motor utamanya. Karena penulis menyadari bahwa  untuk mewujudkan kemandirian energi yang sebenar-benarnya adalah harus dengan melibatkan peran masyarakat secara langsung.